Merajut Asa dari Secangkir Kopi: Wiwit Panen Kopi Kelompok Tani Berkah Tani

Ampel, 7 Agustus 2025. Di bawah langit cerah dan udara yang sejuk, Kecamatan Ampel di Kabupaten Boyolali menyajikan sebuah pemandangan yang memikat hati. Desa Banyuanyar, yang terletak di kaki Gunung Merbabu, menjadi saksi bisu bagi semangat kebersamaan dan rasa syukur yang terus mengalir dalam setiap aliran darah warganya. Di desa ini, kopi bukan sekadar komoditas, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas dan semangat hidup. Pada musim panen tahun ini, Kelompok Tani Berkah Tani menggelar acara Wiwit Panen Kopi, yang menjadi tradisi tahunan yang penuh makna. Lebih dari sekadar acara syukuran, perayaan ini merupakan simbol perjuangan, kerja keras, dan doa yang tulus dari para petani kopi yang telah lama mengabdikan diri untuk tanah yang mereka garap.

Acara dimulai dengan nuansa kekeluargaan yang sangat kental. Suasana hangat terasa begitu menyentuh, seolah setiap langkah yang diambil oleh para petani dan tamu undangan yang hadir turut mempersembahkan doa dan harapan terbaik bagi kelangsungan hidup mereka. Hadir dalam kesempatan tersebut berbagai elemen penting, mulai dari perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) WIlayah III, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Muspika Kecamatan Ampel, Kepala Desa Banyuanyar, Babinsa, serta perwakilan dari Universitas Batik Solo dan pelajar SMKN 1 Mojosongo yang menyaksikan langsung bagaimana sebuah komunitas dapat tumbuh dan berkembang melalui ketekunan dan kebersamaan. 

Pak Iman, perwakilan dari Kelompok Tani Berkah Tani, yang dengan rendah hati menyampaikan rasa syukur atas segala hasil yang diperoleh. “Setiap tahun kami mengadakan acara wiwit panen ini sebagai wujud syukur kami kepada Tuhan yang telah memberikan hasil yang melimpah. Tanpa kerja keras dan semangat gotong royong, tentu semua ini tak akan tercapai,” ujar beliau dengan penuh rasa haru. Dalam kesempatan itu, Bapak Iman juga memaparkan penambahan anggota kelompok. Pada tahun 2024, hanya ada 30 anggota yang aktif, tetapi kini di tahun 2025, jumlah anggota mereka telah bertambah menjadi 35 orang, sebuah pencapaian yang menggembirakan. Luas lahan yang mereka kelola pun terus berkembang, meskipun baru sebagian yang produktif. Meskipun sempat mengalami penurunan hasil panen akibat cuaca yang kurang mendukung, semangat para petani tidak pernah surut. Bahkan, mereka tidak hanya bekerja untuk diri mereka sendiri, tetapi juga saling membantu sesama petani yang membutuhkan, menunjukkan semangat kebersamaan yang sangat kuat.

Kepala Desa Banyuanyar, Bapak Komarudin, dalam sambutannya menekankan betapa pentingnya perkembangan kopi di desa mereka. Dengan semangat yang membara, beliau mengatakan, “Banyuanyar Juara, Berkah Kopi Jaya, Boyolali Maju!” Yel-yel ini menggema, memberikan semangat baru bagi para petani yang hadir. Beliau dengan bangga menceritakan bagaimana Desa Banyuanyar kini dikenal luas sebagai salah satu sentra kopi terbaik di Boyolali. “Kecerdasan warga kami tercermin dari bagaimana mereka memasarkan kopi mereka. Tidak hanya dijual dalam bentuk biji kopi mentah, namun kini sudah dalam bentuk green bean yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Ini adalah hasil dari pengetahuan dan inovasi yang terus berkembang di kalangan petani kopi kami,” tambahnya.

Kegembiraan semakin terasa ketika Bapak Muhammad Busroni, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Boyolali, memberikan apresiasi dan dukungannya. Beliau bahkan mencetuskan nama unik untuk kopi Boyolali: “Kopi Boy,” sebagai bentuk branding yang dapat dikenali secara luas. “Dari kaki Gunung Merbabu, kita bersatu, pantang mundur, memajukan Boyolali!” serunya dengan penuh semangat, menyalakan api motivasi di dalam diri setiap petani yang hadir. Kata-katanya bukan hanya sekadar dukungan, tetapi juga sebuah dorongan untuk terus berinovasi dan berjuang demi kemajuan pertanian kopi di daerah mereka. Puncak acara ditutup dengan momen yang sangat khidmat, doa bersama. Doa agar hasil panen semakin meningkat, tanah dan tanaman kopi tetap lestari, serta keberkahan senantiasa menyertai setiap tetes keringat yang dicurahkan oleh para petani kopi. Doa ini tidak hanya dipanjatkan untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan yang lebih baik bagi seluruh anggota kelompok dan seluruh petani kopi di desa tersebut.

Pada tahun ini, Kelompok Berkah Tani Anggota telah berhasil mengelola lahan kopi seluas 19 Ha, akan tetapi yang sudah siap panen sekitar 5 – 6 Ha, selebihnya masih belum produktif. Produksi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Tahun 2023 produksinya mencapai 8,95 ton, tahun 2024 mencapai 9,65 ton. Untuk tahun 2025 diprediksi produksinya berkurang karena adanya musim kemarau basah,  dimana saat musim kemarau, yang seharusnya ditandai dengan cuaca kering dan minim hujan, justru masih diguyur hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Hal ini mengakibatkan kerontokan buah kopi. 

Tradisi Wiwit Panen ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia merupakan sebuah cerminan dari filosofi hidup para petani kopi Desa Banyuanyar. Bekerja keras, bersyukur, dan selalu berbagi adalah nilai-nilai yang terkandung dalam setiap langkah yang mereka ambil. Mereka percaya bahwa melalui secangkir kopi, mereka tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga sebuah cerita yang mengisahkan tentang persatuan, ketekunan, dan harapan yang tumbuh subur di lereng Gunung Merbabu. Sebuah kisah yang akan terus hidup, berputar seiring dengan waktu, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Melalui tradisi yang terus terjaga ini, Kelompok Tani Berkah Tani berharap dapat memberi inspirasi kepada banyak orang bahwa kebersamaan, kerja keras, dan semangat untuk maju adalah kunci untuk meraih kesuksesan. Dan bagi mereka, setiap tetes kopi yang mereka petik adalah lambang dari harapan yang tak pernah pudar.

Tinggalkan komentar