Oleh Pasindra Ilham Pamungkas, Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Boyolali
Kabupaten Boyolali, yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dikenal sebagai salah satu pusat pertanian yang penting di wilayah tersebut. Boyolali yang identik dengan kondisi alam yang beragam dan iklim yang mendukung dari dataran rendah hingga dataran tinggi, menghasilkan berbagai macam produk pertanian berkualitas tinggi. Kabupaten ini terkenal dengan produksi sayuran, buah-buahan, serta komoditas pertanian lainnya seperti padi dan jagung. Selain itu Boyolali juga di kenal sebagi kota susu. Hal itu di karenakan daerah ini sebagai penghasil susu sapi yang signifikan. Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Boyolali menggantungkan mata pencaharian mereka sebagai petani. Berdasarkan data base Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali pada bulan Februari 2024 terdapat 118.129 petani dan 11.300 petani milenial yang sudah tergabung dalam kelompok tani. Namun masyarakat saat ini terutama generasi muda lebih memilih mencari mata pencaharian lain daripada menjadi petani atau bertani di kebun mereka. Hal ini dikarenakan profesi sebagai petani sering dipandang sebelah mata dan kesejahteraannya kurang terjamin. Menurunnya pendapatan atau harga saat panen dapat mengakibatkan petani tidak bisa memenuhi kebutuhan. Penyebab menurunnya pendapatan petani saat panen bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya produktivitas yang kurang maksimal, kualitas dan kuantitas yang tidak sesuai, gangguan organisme pengganggu tanaman yang bisa menyebabkan gagal panen ataupun juga bisa disebabkan karena kalah saing dengan produk pertanian hasil import yang kualitas dan harganya bisa lebih menarik.
Penurunan produktivitas hasil pertanian menjadi salah satu penyebab kurangnya kesejahteraan petani. Salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas pertanian adalah degladasi lahan. Menurut Wahyunto dan Dariah A, (2014) lahan yang fungsinya sebagai penyedia jasa lingkungan dan produktivitasnya terganggu akibat pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia atau faktor alam yang terjadi secara alami disebut degradasi lahan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Fudoyo, M.M. (2020) mengatakan permasalahan yang dihadapi saat ini adalah terdapat empat belas juta wilayah kritis di Indonesia. Lahan yang terancam ini merupakan akibat dari degradasi lahan berupa kerusakan fisik, kimia, dan biologi pada kondisi lahan yang dapat mengakibatkan berkurangnya kuota produksi. Jumlah tersebut terus menambah setiap tahunnya. Kabupaten Boyolali juga mengalami masalah degladasi lahan yang cukup serius, salah satunya adalah penurunan produksi tanaman padi. Dari data yang di liris BPS Kab. Boyolali tahun 2018 produksi padi di Boyolai ialah 277 238,00 ton, di tahun 2019 adalah 266 777,25 ton, di tahun 2020 produksinya hanya 222 419,96 ton. Pengolahan lahan yang kurang tepat seperti penggunaan pestisida dan pupuk anorganik yang berlebihan menjadi salah satu faktor penyebab degladasi lahan (Wahyunto dan Dariah A, 2014). Tingginya penggunaan pupuk anorganik pada lahan pertanian dalam jangka panjang dapat memberikan akibat berupa kerusakan alam hidup yang timbul baik terhadap tanah, air, udara, maupun hewan dan manusia (Wulansari, 2020). Budidaya tanaman padi sehat merupakan salah satu terobosan untuk menangani masalah degladasi lahan di Indonesia khususnya di Boyolali. Menurut A Diningsih dan Rochayati (1988), pemberian bahan organik merupakan sarana untuk memperbaiki alam tumbuh tanaman, seperti menambah efektivitas pemupukan.
Nugrahanto, W., & Eviyanti, A. (2022, December) melakukan sebuah penelitian yang berjudul Integrasi budidaya padi sehat dan peternakan berbasis pertanian berkelanjutan di desa Ngreses, Boyolali. Prosiding Seminar Nasional Tahun 2022 (Volume 1 Edisi 1) Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan November 2021 hingga Februari 2022 di kelompok tani Lestari Maju di Desa Ngeles Kecamatan Juwangi dengan melibatkan para petani dan petani milenial. Bahan yang digunakan adalah bibit padi Inpari 42 dan bahan organik berupa pupuk hayati sebanyak 12,5 kg, pembenah tanah sebanyak 75 kg, biopestisida sebanyak 15 kg, Metarhizium sebanyak 22,5 kg dan Trichoderma sebanyak 15 kg. Benih padi ditanam dengan sistem jajar legowo 2:1 (jarak tanam 40×20×10 cm) dan dibandingkan dengan sistem tanam tegel konvensional (jarak tanam 20×20 cm) pada lahan seluas 25 ha. Metode yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah penyusunan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil penelitian terapan di darat, dan data sekunder didapat dari literatur penelitian sebelumnya, buku, dan internet serta diolah dengan deskriptif serta kualitatif.
Teknologi yang mencapai populasi padi lebih dari 160.000 tanaman per hektar adalah hasil dari sistem jajar legowo (Nugrahanto, W. & Eviyanti, A. 2022, Desember). Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2013), penerapan Jajar legowo menambah populasi tanaman, meningkatkan kelancaran perputaran sinar matahari dan angin di sekitar pinus, serta memungkinkan tanaman melakukan fotosintesis dengan lebih optimal. Penunjukkan benih padi Inpari 42 didasarkan dengan sifat varietas padi dan keadaan fisik negara dalam hal ketahanan akan hama dan penyakit.
| No | Tinggi tanaman (cm) | Panjang malai (cm) | Jumlah anakan | Anakan Produktif | Gabah isi/ malai | Gabah hampa/ malai |
| 1 | 103 | 25,6 | 32 | 30 | 238 | 20 |
| 2 | 107 | 24 | 33 | 31 | 227 | 1 |
| 3 | 115 | 25 | 25 | 24 | 258 | 4 |
| 4 | 113 | 26 | 24 | 25 | 267 | 6 |
| Rata- rata | 110,6 | 25 | 28 | 26 | 247,5 | 8,2 |
Tabel 1. Hasil Pencatatan Tanaman Padi dengan Sistem Jajar Legowo 2:1
Sumber: Data Primer dari jurnal penelitian Nugrahanto, W., & Eviyanti, A. (2022, December)
| No | Tinggi tanaman (cm) | Panjang malai (cm) | Jumlah anakan | Anakan Produktif | Gabah isi/ malai | Gabah hampa/ malai |
| 1 | 104 | 22 | 22 | 18 | 147 | 31 |
| 2 | 103 | 24 | 16 | 16 | 130 | 16 |
| 3 | 105 | 21 | 17 | 16 | 140 | 36 |
| 4 | 107 | 24 | 22 | 20 | 133 | 41 |
| Rata- rata | 104,5 | 23,26 | 18 | 19 | 137 | 30,1 |
Tabel 2. Hasil Pencatatan Tanaman Padi dengan Sistem Konvensional (Tegel)
Sumber: Data Primer dari jurnal penelitian Nugrahanto, W., & Eviyanti, A. (2022, December)
Data dari hasil penelitian Nugrahanto, W., & Eviyanti, A. (2022, December) dapat di simpulkan bahwa Penerapan pupuk organik menambah produktivitas tanah dan efisiensi pemupukan. Pemanfaatan agen hayati seperti Metarhizium dan Trichoderma juga meringankan serangan hama dan penyakit padi. Menurut Murniasih (2009), jamur Trichoderma sp. efektif menghambat beberapa patogen tanaman, seperti jamur Trichoderma sp., Pythium sp., Phytophthora sp., Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dan Heterobasidium annosum. Selain itu penggunaan sistem tanam legowo (Jarwo) 2:1 rata-rata memberikan hasil yang lebih bagus dibandingkan dengan sistem tanam tegel (konvensional). Artinya, tinggi tanaman bertambah 5%, panjang malai bertambah 11%, dan panjang malai bertambah sebelas persen. Produktivitas pengolahan tanah meningkat sebesar 93%. , kandungan gabah sekitar 97%, dan hasil gabah kering 10,25 ton/ha. Ini adalah transplantasi padi sawah yang menggunakan baris legowo 2:1, menjaga jarak tanam antara baris luar dan dalam, menempatkan tanaman setiap baris kedua, bergantian dengan baris kosong (legowo), sehingga sirkulasi lancar metode. Semua tumbuhan termasuk dalam kategori tumbuhan marginal, sehingga terjamin oleh sinar matahari dan udara sekitar sehingga mempengaruhi fotosintesis. Nugrahanto, W. & Eviyanti, A. (Desember 2022). Tanaman yang berada di pinggir akan menghasilkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang berada di barisan. Tanaman tepian juga dapat menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik karena dapat mengurangi persaingan antar baris (Baritovan Kementerian Pertanian, 2013; Hamdani dan Murtiani, 2014).
Budidaya padi sehat merupakan sebuah pedekatan pertanian mengenai pengelolaan tanaman padi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pendekatan nya mencakup pemilihan benih padi unggul yang tahan penyakit, pemanfaatan pupuk organik, penerapan sistem tanam yang baik seperti SRI (System of Rice Intensification) dan penerapan tehnik pengendalian hama terpadu (PHT). Budidaya padi sehat menawarkan banyak manfaat positif untuk petani, komsumen maupun lingkungan. Petani dapat menikmati hasil panen dengan lebih stabil serta tidak perlu mengeluarkan biaya produksi yang besar untuk membeli pestisida dan pupuk kimia. Konsumen akan mendapatkan beras yang sehat karena terhindar dari residu kimia yang berbahaya untuk kesehatan. Kelestarian alam akan lebih terjaga kerena terhindar dari pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Akan tetapi dalam penerapan nya tehnik budidaya padi sehat memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus yang mungkin belum semua dimiliki oleh petani. Pentingnya dukungan dari Pemerintah dan pihak terkait dalam melakukan pendampingan dan penyuluhan sangat di perlukan oleh petani untuk mengadopsi tehnik pertanian berkelanjutan.
